Dunia Linux dan cloud-native terus berkembang. Setelah era container dipopulerkan oleh Docker dan Kubernetes, kini muncul nama Incus yang mulai ramai diperbincangkan di komunitas open-source. Banyak yang penasaran: Apa itu Incus? Apakah ini pengganti LXD? Kenapa sysadmin mulai meliriknya?
Mari kita bahas secara lengkap, tapi tetap santai.
🚀 Apa Itu Incus?

Incus adalah platform manajemen container dan virtual machine (VM) yang modern, ringan, dan powerful. Secara konsep, Incus memungkinkan Anda menjalankan:
- System container (mirip LXC / LXD)
- Virtual machine penuh (berbasis QEMU)
Dengan kata lain, Incus menggabungkan fleksibilitas container dan isolasi kuat VM dalam satu ekosistem.
Incus lahir sebagai kelanjutan komunitas dari proyek LXD setelah perubahan arah pengelolaan proyek tersebut. Banyak developer dan pengguna lama LXD kemudian berkontribusi pada Incus.
🧩 Container vs Virtual Machine di Incus
Salah satu keunggulan utama Incus adalah kemampuannya menangani dua workload sekaligus.
✅ System Container
- Sangat ringan (berbagi kernel host)
- Startup super cepat
- Cocok untuk microservices, lab, dev environment
✅ Virtual Machine
- Kernel terisolasi penuh
- Isolasi lebih kuat
- Cocok untuk workload legacy / OS berbeda
Pengguna bisa memilih sesuai kebutuhan tanpa pindah platform.
⚙️ Kenapa Incus Menarik?
Beberapa alasan Incus mulai populer:
1. Ringan & Efisien
Incus dirancang untuk overhead minimal. Bahkan VM di Incus sering terasa lebih responsif dibanding setup tradisional.
2. Manajemen Mudah
CLI-nya simpel, API-nya rapi, dan workflow-nya ramah sysadmin.
Contoh:
incus launch images:ubuntu/22.04 my-container
incus exec my-container -- bash
Tanpa konfigurasi ribet.
3. Fitur Enterprise-Grade
Incus bukan sekadar tool eksperimen. Ia mendukung:
- Snapshot & rollback
- Live migration
- Storage backend beragam (ZFS, Btrfs, LVM, dll)
- Networking canggih
- Resource limits (CPU / RAM / IO)
4. Gabungan Container + VM
Biasanya admin harus memakai tool berbeda untuk container dan VM. Incus menyatukan semuanya.
🏗️ Arsitektur Singkat
Incus bekerja dengan model client-server:
- Daemon Incus → berjalan di host
- CLI Incus → interface pengguna
- REST API → otomatisasi / integrasi
Ini memudahkan deployment cluster atau remote management.
🌐 Use Case Incus di Dunia Nyata
Incus cocok untuk berbagai kebutuhan:
✅ Homelab / Lab belajar Linux
✅ Server development & testing
✅ Hosting multi-tenant
✅ CI/CD environment
✅ Menjalankan VM ringan tanpa hypervisor berat
Banyak pengguna memilih Incus untuk menggantikan kombinasi:
- Docker + VM tradisional
- Hypervisor berat untuk workload kecil
🔥 Incus vs Docker (Apakah Saingan?)
Ini pertanyaan klasik.
| Docker | Incus |
|---|---|
| Fokus application container | Fokus system container + VM |
| Image berbasis aplikasi | Image OS penuh |
| Sangat populer di devops | Kuat di sysadmin & infra |
Incus bukan “pembunuh Docker”, tapi alternatif berbeda dengan target use case yang lebih luas.
🛠️ Kelebihan Utama Incus
✔ Bisa menjalankan OS penuh dalam container
✔ VM + container dalam satu platform
✔ CLI & API bersih
✔ Resource control granular
✔ Cocok untuk server & lab
⚠️ Hal yang Perlu Dipertimbangkan
Seperti teknologi lain, Incus punya tantangan:
❌ Ekosistem belum sebesar Docker
❌ Tidak fokus pada app container standar OCI
❌ Butuh pemahaman konsep container system
Namun untuk sysadmin Linux, ini justru menarik.
📌 Kapan Sebaiknya Memilih Incus?
Gunakan Incus jika Anda:
✅ Membutuhkan container berbasis OS penuh
✅ Ingin VM ringan & cepat
✅ Mengelola banyak instance Linux
✅ Butuh snapshot & migration mudah
✅ Sering membuat environment testing
Panduan Instalasi & Setup Dasar Incus (Lengkap & Aman untuk Pemula)
Incus bisa dijalankan di banyak distro Linux. Karena banyak user di Indonesia memakai Ubuntu / Debian / Arch-based, saya buat yang paling universal dulu.
1️⃣ Instalasi Incus
✅ Ubuntu / Debian (Recommended & Stabil)
Incus biasanya tersedia via repository resmi komunitas.
sudo apt update
sudo apt install incus
Setelah selesai, cek versi:
incus version
✅ Arch Linux / CachyOS / Manjaro
sudo pacman -S incus
2️⃣ Inisialisasi Incus (Langkah WAJIB)
Setelah install, jangan langsung launch container.
Jalankan:
sudo incus admin init
Anda akan masuk wizard konfigurasi.
Untuk setup aman & standar, pilih:
✅ Storage backend → pilih dir (paling aman untuk pemula)
Kalau pakai SSD & ingin performa tinggi → pilih zfs
✅ Network bridge → pilih Yes
Nama default:
incusbr0
Gunakan default saja kecuali paham networking.
3️⃣ Menjalankan Container Pertama
Contoh Ubuntu:
incus launch images:ubuntu/22.04 my-container
Cek apakah jalan:
incus list
Masuk ke container:
incus exec my-container -- bash
4️⃣ Menjalankan Virtual Machine (VM)
VM berbeda dengan container.
incus launch images:ubuntu/22.04 my-vm --vm
Lihat console VM:
incus console my-vm
5️⃣ Troubleshooting Paling Umum (SUPER PENTING)
Ini masalah yang sering sekali muncul.
❌ VM / Container Tidak Mendapat IP
Gejala:
- Tidak bisa ping internet
incus listmenunjukkan IP kosong- Tidak bisa update package
✅ Cek Network Bridge
Pastikan bridge ada:
incus network list
Harus ada misalnya:
incusbr0
Kalau tidak ada → init gagal / skip bridge.
✅ Restart Service Incus
sudo systemctl restart incus
✅ Cek DHCP & NAT
Lihat detail network:
incus network show incusbr0
Pastikan ada:
- ipv4.address
- ipv4.nat = true
- ipv4.dhcp = true
Kalau NAT mati → container tidak bisa internet.
❌ Container Tidak Bisa Internet Tapi Ada IP
Biasanya firewall host.
Coba sementara:
sudo ufw disable
Kalau langsung normal → masalah firewall rules.
❌ Permission Denied / Incus Tidak Bisa Jalan
Tambahkan user ke grup incus:
sudo usermod -aG incus $USER
newgrp incus
Logout-login juga aman.
6️⃣ Snapshot (Fitur Powerful Incus)
Sebelum eksperimen:
incus snapshot my-container snap1
Restore:
incus restore my-container snap1
Ini lifesaver kalau salah konfigurasi.
7️⃣ Kapan Harus Pakai ZFS?
Gunakan ZFS jika:
✅ Banyak container / VM
✅ Butuh performa tinggi
✅ Butuh snapshot cepat
✅ Pakai SSD / NVMe
Kalau masih belajar → backend dir sudah cukup.
🎯 Kesimpulan
Incus adalah solusi modern yang mengisi celah antara container ringan dan VM tradisional. Ia bukan sekadar tren, tapi tool serius untuk infrastruktur Linux.
Bagi pengguna yang suka eksperimen, homelab, atau administrasi server, Incus bisa jadi “senjata baru” yang sangat menarik.
